Berita Hawzah – Di dunia saat ini di mana media secara efektif telah melintasi batas-batas geografis dan bertindak sebagai perekayasa pikiran serta perilaku manusia, menjelaskan indikator-indikator yang berkaitan dengan gaya hidup Husaini dan Zainabi bukanlah sekadar pilihan kultural, melainkan sebuah keniscayaan untuk menjaga identitas luhur masyarakat Islam.
Kemuliaan, Kebebasan, dan Pengorbanan dalam Ajaran Sayyid asy-Syuhada (Imam Husain as)
Dr. Mahdi Islami, anggota dewan ilmiah Lembaga Penelitian Imam Shadiq (as), berpendapat: Gaya hidup Husaini lebih dari segalanya bertumpu pada poros kemuliaan (izzah), kebebasan (hurriyyah), dan pengorbanan (itsar). Pernyataan ini bermakna mengorbankan kepentingan pribadi demi menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan, serta bahwa manusia harus menyadari bahwa dalam jalan penghambaan kepada Allah, ia harus melepaskan keinginan-keinginan dan tuntutan hawa nafsunya agar dapat meraih kebahagiaan sejati di dunia dan akhirat.
Beliau menambahkan: Di sisi lain, gaya hidup Zainabi dibangun di atas poros komponen-komponen seperti kebijaksanaan (bashirah), jihad penjelasan (jihad at-tabyin), dan manajemen emosional. Dalam hal ini, yang dibicarakan adalah kemampuan mengubah ancaman menjadi peluang melalui pencerahan dan kesabaran strategis. Dan dalam bidang-bidang ini, Sayyidah Zainab al-Kubra (sa) berada di puncak tertinggi.
Implementasi Konsep-Konsep Luhur dengan Bantuan Kemampuan Media
Beliau juga mengatakan: Dalam hal ini, media —terutama di masyarakat Islam— sebagai arsitek opini publik, berkewajiban untuk mengeluarkan indikator-indikator dan konsep-konsep ini dari lingkaran kata-kata abstrak dan mengimplementasikannya ke dalam pola-pola perilaku yang nyata dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Karena konsep-konsep luhur ini hanya akan dapat dijelaskan dan disebarluaskan dengan baik melalui sentuhan karya seni dan media.
Teladan Tertinggi untuk Mempromosikan Gaya Hidup
Islami menyatakan: Di zaman kecenderungan kepada spiritualitas yang kini di Barat dan Timur gaungnya terdengar lebih lantang dari sebelumnya, menggambarkan gaya hidup Husaini dan upaya menyeluruh untuk mempromosikannya merupakan sebuah keniscayaan yang tak terbantahkan, terlebih lagi dari pihak kita yang mengaku sebagai syiah dan pecinta Imam Husain (as).
Beliau menekankan: Kita pun tidak boleh melupakan poin sentral ini bahwa Sayyid asy-Syuhada (Imam Husain as) tidak hanya di Karbala dan dalam ranah epik, jihad, dan syahadah menjadi teladan bagi kita, tetapi dalam segala ranah spiritual, akhlak, pergaulan, adab dan kemuliaan, ketekunan ibadah dan qiyamul lail (shalat malam), kedermawanan dan kesatriaan, kedekatan dengan Al-Qur'an, dan penghormatan terhadap manusia —singkatnya, dalam ranah besar gaya hidup Islam— beliau adalah teladan dan kriteria tertinggi bagi kita. Dengan meneladani beliau dan para sahabatnya di Asyura, kita dapat memilih jalan kebahagiaan dan mencapai tujuan luhur kita dengan pertolongan dan kekuatan Ilahi.
Kesabaran dan Ketahanan dalam Menghadapi Kezaliman dan Kerusakan
Narjis Syukrizadah, peneliti dari Hawzah Ilmiah Putri, juga dengan merujuk pada kewajiban semua juru dakwah, dosen, dan elit untuk menjelaskan serta menguraikan dengan benar indikator-indikator dan komponen-komponen fundamental gaya hidup Husaini dan Zainabi kepada seluruh lapisan masyarakat, terutama generasi muda, menyatakan: Di antara indikator-indikator tersebut adalah kesabaran dan ketahanan dalam menghadapi kezaliman dan kerusakan. Sebab dalam ajaran Sayyid asy-Syuhada (Imam Husain as), keteguhan pada prinsip-prinsip moral dan tidak berkompromi atas kebenaran, bahkan dalam menghadapi tekanan dan kesulitan sekalipun, merupakan sebuah prinsip kunci yang tak terbantahkan.
Beliau menambahkan: Perhatian terhadap pemeliharaan dan peningkatan martabat kemanusiaan adalah isu penting berikutnya, yang kita saksikan secara nyata dalam sirah dan ucapan-ucapan cahaya Imam Husain (as). Pada dasarnya, manusia dalam mazhab dan sistem inilah yang mencapai kebahagiaan yang disertai dengan martabat.
Pilihan Terbaik dalam Jalan Membela Kebenaran
Beliau (Narjis Syukrizadah) juga dengan merujuk pada Karbala dan arena Asyura sebagai ujian atas pilihan-pilihan manusia, menyatakan: Setiap detik kehidupan manusia senantiasa dihadapkan pada persoalan pilihan, karena kebahagiaan atau kesengsaraan seseorang pun ditentukan oleh pilihan-pilihannya. Dalam diri manusia terdapat akal dan hawa nafsu. Daya tarik dunia dan akhirat saling menariknya ke sana kemari. Tarikan-tarikan nafsu atau tarikan-tarikan Ilahi (rahmani) menjadikan manusia lebih mulia dari malaikat, atau lebih rendah dari hewan, tergantung pada pilihan manusia itu sendiri.
Syukrizadah menambahkan: Atas dasar ini, harus dikatakan bahwa seluruh adegan Asyura dari awal hingga hari ini adalah pilihan. Imam Husain (as) bisa saja tinggal di Madinah dan tunduk kepada penguasa zalim, namun dalam rangka menegakkan kebenaran dan menghidupkan kembali sunah Nabi Muhammad (saw) dan sunah Ali (as), beliau memilih hijrah ke Makkah dan Kufah. Beliau bisa saja berkompromi dengan pemerintahan Yazid, namun beliau memilih jihad dan syahadah. Beliau juga bisa saja memikirkan kehidupan duniawi yang mewah selama beberapa hari, namun beliau memilih akhirat dan kebahagiaan abadi. Dan demikianlah beliau menjadi sayyid dan pemimpin bagi semua orang merdeka dan pencari kebenaran sepanjang sejarah, dari awal hingga akhir.
Menjalankan Kewajiban Jihad Tabyin dalam Bingkai Imam Husain (as)
Ia menyatakan: Media kita harus mampu menyampaikan persoalan pilihan antara yang hak dan yang batil ini dengan cara yang artistik dan dengan bahasa kekinian kepada khalayaknya. Jika berhasil dalam hal ini, maka pasti ia telah mewujudkan misi penting Jihad Tabyin.
Penulis dan peneliti keagamaan ini menegaskan: Jihad Tabyin dalam bingkai Imam Husain (as) berarti mematahkan pengepungan propaganda musuh melalui penyampaian fakta-fakta dan penuturan kisah secara jujur serta keteguhan di jalan ini. Tentunya kemuliaan besar berupa syahadah adalah balasan tertinggi bagi pengabdian di jalan suci ini.
Di akhir, ia mengatakan: Setiap orang yang bergerak di bidang aktivitas media dan mampu menggunakan sarana seni dan media untuk memproduksi konten yang kaya, menarik, dan efektif ke arah ini, wajib menurut kadar dan kemampuannya untuk menyebarkan kebenaran-kebenaran ajaran Husaini. Karena upaya yang terarah dan ikhlas dalam hal ini adalah syarat bagi keteguhan langkah dalam bingkai Imam Husain (as). Dan semoga dengan pertolongan Ilahi dan perhatian dari Imam Husain (as) sendiri, kita semua sukses dan diberi taufik dalam ujian besar Jihad Tabyin ini.
Komentar Anda